Selasa, 08 Februari 2011

TABIR YANG TERBELAH

Pengkhotbah

Esra Alfred Soru

P
uji Tuhan bahwa hari ini Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk beribadah dan juga mengambil bagian di dalam sakramen Perjamuan Kudus. Untuk itu mari kita mengarahkan diri kita kepada hal ini dengan merenungkan satu bagian Firman Tuhan yang adakah sebuah peristiwa ajaib yang terjadi pada saat Yesus Tuhan kita mati di atas kayu salib yakni peristiwa tirai Bait Allah terbelah menjadi dua. Mari kita lihat ayat berikut :

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah


Pada saat menjelang dan kematian Yesus di atas salib, ada banyak peristiwa ajaib terjadi seperti kegelapan selama 3 jam karena matahari tidak bersinar :

Luk 23:44-45 – (44) Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. ….”

Terjadinya gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah :

Mat 27:51 – “…. dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah

Dan orang-orang kudus bangkit :

Mat 27:52 - dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
Tapi salah satu peristiwa yang cukup menyolok yang terjadi saat Yesus mati adalah terbelahnya tabir Bait Suci.

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah …..”

Luk 23:45 – “…. Dan tabir Bait Suci terbelah dua


Mengapa tabir ini bisa terbelah? Apa makna di balik itu? Kita akan mempelajari hal ini dalam beberapa point penting :

I.      HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI TENTANG TABIR BAIT SUCI

Alkitab berkata bahwa tabir Bait Suci terbelah saat Yesus mati. Sebenarnya ini tabir apa? Sebagaimana sudah saya jelaskan dalam seri khotbah Israel bahwa di padang gurun, Allah memerintahkan kepada Musa untuk membuat Kemah Suci atau ”TABERNAKEL”. Kemah Suci ini terdiri dari 3 ruangan yakni pelataran, Ruang Suci dan Ruang Mahasuci.

Pola ini lalu dipakai di dalam Bait Allah Salomo dan Bait Allah II sehingga di dalam Bait Allah tetap ada Ruang Suci dan Ruang Mahasuci.

Ibr 9:2-3 – (2) Sebab ada dipersiapkan suatu kemah, yaitu bagian yang paling depan .... Bagian ini disebut tempat yang kudus. (3) Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus....”

Di antara Ruang Suci dan Ruang Mahasuci ini, digantung sebuah tirai/tabir yang berfungsi untuk memisahkan kedua ruang ini.



Kel 26:33 - Haruslah tabir itu kau gantungkan pada kaitan penyambung tenda itu dan haruslah kau bawa tabut hukum ke sana, ke belakang tabir itu, sehingga tabir itu menjadi pemisah bagimu antara tempat kudus dan tempat maha kudus.


Tirai/tabir ini dibuat dari kain ungu tua, ungu muda dan kain merah kirmizi serta memberikan gambar kerub (malaikat bersayap) di atasnya.

Kel 36:35 - Dibuatlah tabir itu dari kain ungu tua, dan kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus yang dipintal benangnya; dibuat dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun.

Vincent - Menurut rabi-rabi tabir ini tebalnya selebar tangan, dan ditenun dari 72 jalinan yang dipilin, setiap pilinan terdiri dari 74 benang. Tabir itu panjangnya 60 kaki dan lebarnya 30 kaki. Dua dari tabir-tabir itu dibuat setiap tahun, dan menurut bahasa yang dilebih-lebihkan dari zaman itu, dibutuhkan 300 imam untuk menggerakkannya.


Karena Ruang Mahasuci dianggap sebagai tempat kediaman Allah di bumi, maka tirai/tabir tersebut menandakan pemisahan antara Allah dan manusia. Tidak boleh ada orang yang masuk ke dalam Ruang Suci ini. Hanya imam besar yang boleh masuk ke sana, itu pun satu tahun sekali untuk mempersembahkan korban. Itu pun dengan peraturan yang detail.

Ibr 9:7 - tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar.

Im 16:2-4 – (2) Firman TUHAN kepadanya: "Katakanlah kepada Harun, kakakmu, supaya ia jangan sembarang waktu masuk ke dalam tempat kudus di belakang tabir, ke depan tutup pendamaian yang di atas tabut supaya jangan ia mati; karena Aku menampakkan diri dalam awan di atas tutup pendamaian. (3) Beginilah caranya Harun masuk ke dalam tempat kudus itu, yakni dengan membawa seekor lembu jantan muda untuk korban penghapus dosa dan seekor domba jantan untuk korban bakaran. (4) Ia harus mengenakan kemeja lenan yang kudus dan ia harus menutupi auratnya dengan celana lenan dan ia harus memakai ikat pinggang lenan dan berlilitkan serban lenan; itulah pakaian kudus yang harus dikenakannya, sesudah ia membasuh tubuhnya dengan air.
Note : Menurut legenda (diragukan kebenarannya), tiap kali imam besar masuk ke Ruang Mahasuci ini, kakinya selalu diikat dengan tali supaya apabila ia membuat kesalahan yang berakibat hukuman mati, ia ditarik keluar dari sana.

Selain Harun/imam besar, tidak boleh ada orang lain yang masuk ke sana, bahkan mendekat (di pelataran) pun tidak boleh.

Im 16:17 - Seorangpun tidak boleh hadir di dalam Kemah Pertemuan, bila Harun masuk untuk mengadakan pendamaian di tempat kudus, sampai ia keluar, setelah mengadakan pendamaian baginya sendiri, bagi keluarganya dan bagi seluruh jemaah orang Israel”.

Orang awam yang mendekat ke sana akan dihukum mati.

Bil 1:51 - “Apabila berangkat, Kemah Suci harus dibongkar oleh orang Lewi, dan apabila berkemah, Kemah Suci harus dipasang oleh mereka; sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati”.

Bil 3:10 - “Tetapi Harun dan anak-anaknya haruslah kautugaskan untuk memegang jabatannya sebagai imam, sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati.’”

Bil 3:38 - “Yang berkemah di depan Kemah Suci di sebelah timur, di depan Kemah Pertemuan, ialah Musa, dan Harun serta anak-anaknya, yang mengerjakan tugas pemeliharaan tempat kudus bagi orang Israel; tetapi orang awam yang mendekat, haruslah dihukum mati”.

Bil 18:7 - “tetapi engkau ini beserta anak-anakmu harus memegang jabatanmu sebagai imam dalam segala hal yang berkenaan dengan mezbah dan dengan segala sesuatu yang ada di belakang tabir, dan kamu harus mengerjakannya; sebagai suatu jabatan pemberian Aku memberikan kepadamu jabatanmu sebagai imam itu; tetapi orang awam yang mendekat harus dihukum mati”.

Jadi tabir/tirai itu sebagai penghalang jalan masuk kepada Allah.
 
I.      TERBELAHNYA TABIR/TIRAI BAIT SUCI.

Pada saat Yesus mati, tabir tersebut terbelah menjadi dua. Kira-kira kapan peristiwa ini terjadi?

Luk 23:44-46 – (44) Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Jadi kegelapan mulai jam 12 siang sampai jam 3 sore dan Yesus mati sekitar jam 3 sore itu dan dengan demikian tabir Bait Suci itu terbelah sekitar jam 3 sore, bertepatan dengan Yesus mati. Kalau tabir tersebut terbelah pada jam 3 sore, maka itu adalah waktu yang bertepatan dengan waktu korban petang yang dilakukan oleh imam-imam.

Ezr 9:5 - Pada waktu korban petang bangkitlah aku dan berhenti menyiksa diriku, lalu aku berlutut dengan pakaianku dan jubahku yang koyak-koyak sambil menadahkan tanganku kepada TUHAN, Allahku
Lenski - Yesus mati pada pukul 3 sore, maka tabir itu pasti telah sobek pada saat imam-imam sedang sibuk dengan korban petang.
 
Albert Barnes - Ini merupakan saat dari hari di mana imam sedang membakar kemenyan di Ruang Suci, dan adalah mungkin bahwa ia menyaksikan hal itu.
 
Pulpit Commentary : Imam yang mempersembahkan kemenyan pada korban petang sekitar waktu ini pasti telah melihat hal itu, dan menyebarkan berita itu dengan luas di antara teman-temannya, di mana banyak orang mengartikan hal itu sebagai sesuatu yang  fatal/mematikan bagi keamanan dari agama mereka.
 
Bisa jadi ini yang memicu pertobatan banyak imam di kemudian hari.

Kis 6:7 - “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya”.

Selanjutnya, apakah yang menjadi penyebab tabir itu koyak? Ada penafsir yang mengaitkan sobeknya tabir ini dengan gempa bumi yang terjadi juga pada saat itu.

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,…”
Tetapi ini tafsiran yang lemah dan salah karena sobeknya tabir itu terjadi lebih dahulu dari terjadinya gempa bumi.

Mat 27:51 - Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,…”
William Hendriksen - Sama sekali tidak mungkin bahwa Matius mencoba untuk menyampaikan gagasan bahwa penyobekan menjadi dua ini disebabkan oleh gempa bumi. Seandainya itu merupakan maksudnya, bukankah ia akan menyebutkan gempa bumi sebelum penyobekan tabir? Apa yang terjadi harus dianggap sebagai mujizat.

Ada juga penafsir yang melihat bahwa arah robekan tabir tersebut (dari atas ke bawah) menutup kemungkinan bahwa itu disebabkan karena gempa.

Pulpit Commentary: Arah dari penyobekan itu menunjukkan bahwa bukan tangan manusia yang menyobek tabir itu, dan penyobekan itu kelihatannya mendahului gempa bumi.
 
Jadi kesimpulannya adalah Allah sendirilah yang menyobek tirai/tabir tersebut saat Yesus mati.

UBS NT Handbook Series: Markus juga menyebutkan bahwa ‘tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah’. ... Kedua pengamatan bahwa penyobekan itu adalah dari atas sampai ke bawah dan penggunaan bentuk pasif ‘terbelah / dibelah menjadi dua’ menunjuk kepada Allah sebagai seseorang di balik peristiwa itu, dan dengan demikian seseorang bisa menerjemahkan ‘Allah menyebabkan tabir yang tergantung di Bait Suci itu terbelah menjadi dua, dari atas sampai ke bawah’.

Barclay M. Newman & Philp C. Stine - ”Dari atas sampai ke bawah” : Gambaran robeknya tirai dan pemakaian bentuk pasif ”terbelah dua” menunjuk kepada Allah sebagai pelakuknya. Jadi kita bisa menuliskan ”Allah membuat tirai yang tergantung di Bait Suci (atau rumah Tuhan) robek menjadi dua, dari atas sampai ke bawah”. (A Translator’s Handbook of the Gospel of Matthew, hal. 870).

Jakob Van BruggenKejadian ini harus dipandang sebagai tanda dari surga, karena robeknya berlangsung dari atas ke bawah. Tangan tersembunyi yang merobeknya dari atas. Allah sendiri memberi tanda. (Markus : Injil Menurut Petrus, hal. 604)

II.    MAKNA TEOLOGIS DI BALIK SOBEKNYA TABIR BAIT SUCI

Sekarang yang menjadi persoalannya adalah mengapa hal ini harus terjadi pada saat Yesus mati? Apa makna teologis di balik ini? Saya melihat sekurang-kurangnya ada 2 alsan teologis di balik peristiwa ini :

1.     Ini menunjukkan bahwa jalan kepada Allah/surga sudah terbuka.

Tadi sudah saya jelaskan bahwa Ruang Mahasuci adalah tempat kediaman Allah dan tabir yang menutupinya adalah pembatas/penghalang bagi manusia untuk datang kepada Allah. Adanya tabir yang membatasi ini sebagai simbol bahwa jalan kepada Allah masih tertutup.

Ibr 9:7-8 – (7) tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar. (8) Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada.
Itulah sebabnya, jangankan masuk, mendekat saja konsekuensinya adalah mati. Tetapi dengan kematian Kristus maka tabir ini menjadi koyak. Kalau tabir ini masih ada berarti jalan ke tempat kudus (Allah/surga) belum terbuka, maka dengan koyaknya tabir tersebut itu berarti bahwa jalan ke tempat kudus (Allah/surga) sudah terbuka. Maka kita boleh membalik kata-kata dalam Ibr 9:8 :

Ibr 9:8 - Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada.
Menjadi :

”Dengan ini Roh Kudus menyatakan bahwa jalan ke tempat yang kudus itu sudah terbuka....”

Albert Barnes - Ruang Mahasuci biasanya telah dianggap sebagai type dari surga, dan penyobekan dari tabir menunjukkan bahwa jalan ke surga sekarang terbuka untuk semua ….”

The Bible Exposition Commentary - Penyobekan tabir menyimbolkan kebenaran yang luar biasa / indah bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka.

Dan bahwa tabir ini koyak saat Kristus mati menunjukkan bahwa kematian Kristuslah adalah penyebab dari koyaknya tabir ini. Maka di sini kita menemukan kebenaran bahwa kematian Kristuslah yang membuka jalan kepada Allah/surga itu dan bukan yang lain.

Pulpit Commentary - Ruang Mahasuci menyimpan kehadiran Allah, di mana tabir itu mengeluarkan setiap orang kecuali imam besar pada satu peristiwa khusus, dan dengan demikian menunjukkan pendamaian yang tidak sempurna antara Allah dan umat-Nya, dan jalan ke Ruang Mahasuci belum dinyatakan. Penyobekan tabir ini menandakan pembukaan jalan masuk ke surga melalui tubuh yang terluka dari Kristus.

Karena itu penulis surat Ibrani berkata :

Ibr 10:19-20 – (19) Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, (20) karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri.

Simak kata-kata Calvin yang indah ini :

Calvin - Kristus, Imam yang benar dan kekal, setelah menghapuskan gambaran-gambaran / simbol-simbol dari hukum Taurat, membuka bagi kita jalan ke Ruang Mahasuci surgawi dengan darah-Nya, sehingga kita tidak perlu berdiri lebih lama lagi di kejauhan di dalam pelataran/serambi, tetapi bisa dengan bebas maju ke dalam kehadiran Allah. Karena selama ibadah / penyembahan yang bersifat bayangan tetap berlaku, suatu tabir digantung di depan Ruang Mahasuci duniawi, untuk menjaga supaya umat / bangsa itu bukan hanya tidak masuk, dan bahkan supaya mereka tidak melihatnya, (Kel 26:33; 2 Taw 3:14). Sekarang Kristus, dengan ‘menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita’ (Kol 2:14), menyingkirkan semua halangan, supaya dengan bersandar kepada Dia sebagai pengantara, kita semua bisa menjadi ‘imamat yang rajani’ (1Pet 2:9). Karena itu, penyobekan tabir itu…. merupakan suatu pembukaan surga, sehingga sekarang Allah bisa mengundang anggota-anggota dari Anak-Nya untuk mendekati-Nya dengan keakraban.

Perhatikan juga komentar berikut :

Jamieson, Fausset & Brown - ‘Dan lihatlah, tabir dari Bait Suci terbelah menjadi dua dari atas sampai bawah’. Ini adalah tabir yang tebal dan dikerjakan dengan sangat indah yang tergantung di antara ‘Ruang Suci’ dan ‘Ruang Mahasuci’, menutup semua jalan masuk ke hadirat Allah yang dinyatakan ‘dari atas tutup pendamaian dan dari antara kerub-kerub’: …. Ke dalam Ruang Mahasuci itu tak seorangpun boleh masuk, bahkan tidak imam besar, kecuali sekali setahun, pada hari raya penebusan / pendamaian, dan pada saat itu hanya dengan darah penebusan dalam tangannya, yang ia percikan ‘pada dan di hadapan tutup pendamaian 7 kali’ (Im 16:14) - untuk menunjukkan bahwa jalan masuk kepada Allah yang suci hanyalah melalui darah yang menebus. Tetapi karena mereka hanya mempunyai darah lembu jantan dan kambing, yang tidak bisa menghapus dosa (Ibr 10:4), selama zaman-zaman yang panjang yang mendahului kematian Kristus, tabir yang tebal itu tetap ada; darah dari lembu jantan dan dari kambing terus menerus dicurahkan dan dipercikkan; dan sekali setahun jalan masuk kepada Allah melalui suatu korban yang menebus diberikan - dalam suatu gambaran, atau lebih tepat, dinyatakan secara dramatis, dalam tindakan-tindakan simbolis itu - tidak lebih. Tetapi sekarang, satu Korban yang menebus disediakan dalam darah yang mahal dari Kristus, jalan masuk kepada Allah yang kudus ini tidak bisa ditolak lebih lama lagi; dan karena itu pada saat Korban mati pada mezbah, tabir yang tebal itu, yang selama begitu banyak zaman telah menjadi simbol yang menakutkan dari pemisahan antara Allah dan manusia yang bersalah, terbelah secara misterius dari atas sampai ke bawah, tanpa ada suatu tangan yang menyentuhnya: - ‘dengan ini Roh Kudus menunjukkan bahwa jalan ke dalam Ruang Mahasuci bagi semua orang sekarang telah dinyatakan!’ Alangkah ditekankannya pernyataan ‘dari atas sampai ke bawah’; seakan-akan untuk mengatakan ‘Sekarang datanglah dengan berani kepada takhta kasih karunia; tabir itu telah hilang sama sekali; tutup pendamaian terbuka terhadap pandangan dari orang-orang berdosa, dan jalan kepadanya diperciki dengan darahNya - ‘yang oleh / melalui Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat’ (Ibr 9:14)! Sebelumnya / dahulu, adalah kematian untuk masuk ke dalam, sekarang adalah kematian untuk tetap di luar.

Jadi sekarang pintu menuju Allah sudah terbuka. Pintu menuju surga sudah terbuka. Pintu menuju kehidupan sudah terbuka. Tetapi karena yang membukanya adalah Kristus melalui pengorbanan diri-Nya, maka hanya orang yang percaya kepada Kristus sajalah yang boleh masuk ke sana sedangkan mereka yang tidak percaya kepada Kristus tidak bisa masuk ke sana.

Yoh 14:6 - Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Saya ingin menekankan kata-kata terakhir dari Jamieson, Fausset & Brown :

Jamieson, Fausset & Brown - Sebelumnya / dahulu, adalah kematian untuk masuk ke dalam, sekarang adalah kematian untuk tetap di luar”.

Benar sekali! Dulu (sebelum Kristus mati), jangankan masuk, mendekat saja ke Ruang Mahasuci orang akan mati. Tapi sekarang, ketika Kristus sudah membuka jalan ke sana, maka semua orang yang masuk ke sana bersama Kristus akan hidup sedangkan setiap orang yang berada di luar sana tanpa Kristus akan mati. Maka sekali lagi ini menunjukkan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus pasti diselamatkan sedangkan semua orang yang di luar Kristus pasti binasa. Dari kebenaran ini kita boleh dan harus berani katakan bahwa semua orang beragama lain tanpa Kristus, demikian juga dengan orang-orang Kristen tapi tanpa Kristus (Kristen KTP), tak akan bisa masuk ke hadirat Allah. Kecuali mereka yang berada di belakang Kristus yang telah membuka jalan itu.

Pertanyaan bagi saudara adalah, apakah sekarang ini saudara sudah masuk ke hadirat Allah, melalui Kristus? Kalau belum, jangan sia-siakan karya penebusan yang telah Ia lakukan. Masuklah sekarang juga, atau saudara akan binasa selama-lamanya dalam neraka.

2.     Ini menunjukkan bahwa seluruh upacara Perjanjian Lama, dengan imam-imam, korban-korban, dan bahkan seluruh Bait Sucinya sudah berakhir/telah dihapuskan.

Peristiwa robeknya tabir Bait Suci juga menunjukkan bahwa seluruh upacara Perjanjian Lama, dengan imam-imam, korban-korban, dan bahkan seluruh Bait Sucinya sudah berakhir/telah dihapuskan. Kita akan bahas ini satu per satu :

a.     Jabatan dan fungsi imam berakhir.

Tadi sudah dijelaskan bahwa sobeknya tabir Bait Suci menunjukkan bahwa Kristus telah membuka jalan kepada Allah. Jikalau Kristus sudah membuka jalan kepada Allah maka orang-orang yang percaya kepada Kristus dengan penuh keberanian dapat menghadap Allah.

Ibr 4:16 - Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Nah, kalau memang kita yang percaya kepada Kristus sudah dapat menghadap Allah dengan jasa penebusan Kristus, lalu untuk apa dibutuhkan imam? Pada saat tabir Bait Suci belum terbelah, yang berarti jalan ke tempat kudus masih tertutup, peranan seorang imam sangat dibutuhkan karena dialah yang masuk ke Ruang Mahasuci itu untuk membawa korban yang terbatas itu untuk penebusan dosa umatnya dan itu pun hanya 1 tahun 1 kali. Jikalau sekarang melalui Kristus kita sudah bisa masuk ke tempat kudus / beroleh jalan menuju Allah, lalu untuk apa diperlukan imam? Bukankah Kristus sendiri sudah menjadi imam besar bagi kita?

Ibr 4:14 - Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, …."

Kristus bukan hanya imam besar/perantara bagi kita tetapi Ia satu-satunya imam besar/pengantara bagi kita.

1 Tim 2:5 - Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus

Dengan demikian maka kita sebenarnya tidak membutuhkan seorang imam manusia lagi karena imam besar kita hanya satu yakni Yesus Kristus. Demikian juga kita tidak membutuhkan pengantara yang lain yang dapat membawa kita kepada Allah karena pengantaranya hanya satu yakni Yesus Kristus. Di sinilah letak kesalahan dari Roma Katolik di mana sampai sekarang mereka masih memiliki imam-imam yang menjadi pengantara antara umat dengan Allah (Mis. Dalam hal pengakuan dosa) dan bahkan mereka mempunyai mediator yang sangat banyak di mana untuk sampai kepada Allah mereka melalui Kristus, untuk sampai kepada Kristus mereka melalui Maria, untuk sampai pada Maria mereka melalui para santa dan santo, untuk sampai pada para santa dan santo mereka melalui imam-imam dan pastor-pastur-pastur, dll. Bahkan tentang Maria, mereka memberikan gelar kepada Maria yang setara dengan gelar kepada Kristus di mana Kristus disebut sebagai “MEDIATOR” (pengantara laki-laki) sedangkan Maria disebut sebagai “MEDIATRIX” (pengantara perempuan). Gelar ini dinyatakan secara eksplisit dalam “Catechism of the Catholic Church” (No. 969). Bandingkan :

Bishop Alphonse de Liguori - Dan ia (Maria) betul-betul merupakan pengantara perdamaian antara orang-orang berdosa dan Allah. Orang-orang berdosa menerima pengampunan oleh ... Maria saja (The Glories of Mary, hal. 82-83).

Loraine Boettner - Ia (Yesus) datang kepada kita melalui Maria, dan kita harus pergi kepada Dia melalui Maria. (Roman Ca­tholicism, hal. 134).

Lebih daripada itu bahkan kedudukan Maria diangkat begitu tinggi bahkan sampai melampaui Kristus.

Bishop Alphonse de Liguori - Banyak hal ... diminta dari Allah, dan tidak dikabulkan; hal-hal itu diminta dari Maria dan didapatkan. (The Glories of Mary, hal 139).

Bishop Alphonse de Liguori - Kita sering mendapatkan dengan lebih cepat apa yang kita minta dengan memanggil nama Maria dari pada dengan memintanya dalam nama Yesus. (The Glories of Mary, hal 147).

Sesungguhnya semua ini adalah penghinaan kepada Kristus. Mengapa? Karena Ia sendirilah yang telah menjadi pengantara antara kita dan Allah, lalu mengapa kita hendak menghadap Allah melalui pengantara yang lain? Jadi robeknya tabir Bait Suci menunjukkan pada kita bahwa jabatan dan fungsi imam manusia sudah berakhir.

Lenski: Pada saat tabir itu terbelah, Allah memproklamirkan bahwa pelayanan dari imam besar Yahudi telah diakhiri.

Bersandar saja pada Kristus sebagai imam besar kita, maka kita akan sampai pada Allah. Jangan pada yang lain.

b.     Bait Suci sudah berakhir.

Ada satu ayat yang harus kita perhatikan :

Ibr 9:8 - Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada.
”Kemah yang pertama” ini jelas adalah Ruang Mahasuci.

BIS - Dengan aturan tersebut, Roh Allah menunjukkan dengan jelas, bahwa selama kemah bagian depan itu masih berdiri, jalan masuk ke dalam Ruang Mahasuci itu belum terbuka.
Jadi ayat ini berkata bahwa selama Ruang Mahasuci itu ada, jalan ke sana belum terbuka. Konsekuensinya adalah kalau jalan ke sana sudah terbuka, artinya kemah bagian depan (Ruang Mahasuci) itu sudah tidak ada lagi. Mengapa bisa tidak ada lagi? Karena pembatas/pemisahnya yakni tabir itu sudah koyak oleh kematiqan Kristus. Dengan demikian kematian Kristus menghapus pemisah / pembatas / pembeda antara Ruang Suci dan Ruang Mahasuci dan dengan demikian sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya Ruang Suci dan Ruang Mahasuci. Jikalau Ruang Suci dan Ruang Mahasuci sudah tidak ada lagi, apakah itu masih disebut Bait Suci? Tidak lagi! Dengan demikian sobeknya tabir Bait Suci mengisyaratkan kepada kita bahwa era Bait Suci sudah selesai. Dan karena itu salahlah kalau sekarang kita justru membangun bait Suci dengan Ruang Suci dan Ruang Mahasucinya. Demikian juga rencana pembangunan Bait Allah III oleh bangsa Israel sekarang adalah sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. (Ini berbeda dengan pembangunan Bait Allah I dan II).

c.     Seluruh upacara dan aturan-aturan Yahudi sudah berakhir.

Seluruh upacara dan aturan-aturan agama Yahudi sangat terkait dengan seorang imam karena imamlah yang mengatur semuanya itu. Juga itu semua sangat terkait dengan Bait Suci karena semua itu dilakukan di Bait Suci. Nah, kalau jabatan dan fungsi imam sudah berakhir, kalau Bait Suci sudah berakhir, lalu untuk apa berbagai macam upacara dan aturan-aturan agama Yahudi itu? Semuanya tidak ada guna lagi dan dengan demikian semuanya harus berakhir pula. Tetapi mengapa imam dan Bait Suci berakhir? Karena kematian Kristus yang merobek tabir Bait Suci itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyebab berakhirnya semua upacara/korban/aturan-aturan Yahudi adalah kematian Kristus.

Efs 2:15 - sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, ….”

Kol 2:14 - dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib

Ada penafsir yang mengatakan bahwa “surat hutang” di sini menunjuk pada aturan-aturan Taurat. Dengan demikian seluruh korban persembahan dalam Perjanjian Lama yang bersifat ceremonial seperti korban domba/kambing, dll berakhir dan tidak boleh dilakukan lagi. Apabila dilakukan maka itu adalah dosa. Seluruh hari raya Yahudi juga sudah berakhir dan tidak boleh dilakukan lagi.

Kol 2:16 - Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu …. mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.

Seluruh aturan Yahudi seperti Sunat juga sudah berakhir.

Gal 5:6 - Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
Seluruh aturan praktis yang berkaitan dengan makanan halal- haram sudah berakhir.

Kol 2:16 : Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman ….

Kol 2:20-22 : Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan, seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

Ya, kematian Kristus yang merobek tabir Bait Suci itu telah membatalkan seluruh sistem agama Yahudi.

Calvin - Sementara itu, orang-orang Yahudi diberi informasi bahwa masa penghapusan korban-korban lahiriah telah tiba, dan bahwa imamat kuno tidak berguna lagi; bahwa sekalipun bangunan Bait Suci tetap berdiri, tidaklah perlu untuk beribadah / menyembah Allah di sana menurut tradisi kuno; tetapi bahwa karena zat dan kebenaran dari bayangan-bayangan telah digenapi, gambar-gambar dari hukum Taurat telah diubah menjadi rohani.

The Bible Exposition Commentary: New Testament: Penyobekan tabir menyimbolkan kebenaran yang luar biasa / indah bahwa jalan kepada Allah sekarang terbuka (Ibr 10:14-26). Tidak lagi dibutuhkan Bait Suci, imam-imam, mezbah-mezbah, atau korban-korban. Yesus telah menyelesaikan pekerjaan keselamatan di kayu salib.

Mengapa semua itu dibatalkan/berakhir?

Ibr 10:1 - Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. …”

Kol 2:17 - semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.
Ya! Semua itu hanya bayangan dan wujudnya adalah Kristus. Kita harusnya bersyukur karena di antara semua umat dari agama Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam), kitalah yang memiliki realita dari keselamatan itu sedangkan Yahudi dan Islam masih tetap berkutat pada bayang-bayang itu. Agama Yahudi sementara berjuang untuk membangun Bait Allah III dan kalau ini terjadi maka mereka akan kembali pada semua aturan Taurat yang adlaah bayang-bayang itu. Agama Islam sampai sekarang masih tetap melakukan hari raya kurban (Idul Adha) dengan mengorbankan kambing domba yang adalah bayangan dari realita yang sesungguhnya. Mereka masih melakukan tuntutan Taurat seperti sunat, dll. Kita juga menjadi merdeka dari semua aturan Taurat misalnya dalam hal makan dan minum. Bayangkan kalau aturan itu masih berlaku, kita akan sangat sulit dalam urusan makan :

Im 11- (4) Tetapi inilah yang tidak boleh kamu … : unta, (5) pelanduk, (6) kelinci, (7) babi hutan, (10) segala yang tidak bersirip atau bersisik (banyak jenis ikan termasuk lele) ….segala makhluk hidup yang ada di dalam air, (sea food seperti udang, kepiting, cumi-cumi, kerang, gurita)… (13) burung rajawali, ering janggut dan elang laut; (14) elang merah dan elang hitam … (15) burung gagak (16) burung unta, burung hantu, camar dan elang sikap …(17) burung pungguk, burung dendang air dan burung hantu besar; (18) burung hantu putih, burung undan, burung ering; (19) burung ranggung, bangau …, meragai dan kelelawar. (20) Segala binatang yang merayap dan bersayap (ular, cacing, ayam, dll) dan berjalan dengan keempat kakinya (tokek, cicak, kucing, anjing, dll) (29)  tikus buta, tikus, dan katak (30) dan landak, biawak, dan bengkarung, siput dan bunglon. (42) ….segala yang berkaki banyak, (lipan, dll)

Note :  

·         Kata-kata dalam tanda kurung (….) dari saya.
·         Binatang-binatang ini bukan hanya tidak boleh dimakan tapi tidak boleh disentuh karena akan najis.  Islam bangga karena mereka tidak makan babi dan anjing, tapi binatang-binatang yang lain mereka makan seperti kelinci, lele, ikan, udang, kepiting, dll. Ini namanya tidak konsisten.

Belum lagi ditambah dengan aturan najis (misalnya perempuan yang haid) dan juga peraturan-peraturan Sabat. Belum lagi ditambah dengan peraturan-peraturan tambahan yang dibuat oleh para ahli Taurat (sekitar 613 aturan) yang sekitar 100 lebih aturan berkenaan dengan hari sabat. Misalnya :
·         Kalau ada seorang perempuan yang melahirkan anaknya tepat pada hari sabat, baik keluarga maupun tetangga dilarang keras untuk menolong perempuan tersebut. Ia dibiarkan melahirkan dan mengurus sendiri peristiwa kelahirannya.
·         Kalau ada lampu-lampu yang bocor dan minyaknya tumpah tepat pada hari sabat maka tidak boleh diperbaiki/menadah minyak yang tumpah itu.
·         Dilarang memakai topi yang pinggirnya lebih lebar dari 3cm karena itu sama dengan memikul beban berat.
·         Kalau ada orang yang sakit gigi (gigi berlubang) dan amat sakit dan terpaksa meneteskan air cuka ke dalam lubang giginya dan menjadi sembuh maka itu sama dnegan bekerja (dosa). Kecuali ia memakan roti yang dicelupkan ke dalam cuka dan tanpa sengaja giginya menjadi sembuh.
·         Tidak boleh memetik buah pada hari sabat.
·         Tidak boleh memakai sepatu yang berpaku besar.
·         Tidak boleh menjahit/membawa jarum pada hari sabat.
·         Tidak boleh memakan telur yang dihasilkan ayam pada hari sabat.
·         Dll

Maka bayangkan, menjadi seorang Yahudi dengan semua aturan itu, orang bisa stress. Itulah sebabnya Yesus berkata :

Mat 11:28 - Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Ya kita bersyukur karena kematian Kristus memerdekakan kita dari semua aturan lahiriah ini.


- AMIN -

Tidak ada komentar: